Monday, January 3, 2011

Telematika Pada Mobile

Perangkat teknologi informasi (TI) saat ini, meski semakin murah, tetapi tetap menjanjikan konsumen untuk selalu terkoneksi dengan dunia maya. Ini dimungkinkan bekat kehadiran teknologi internet seperti teknologi jaringan kabel Ethernet, atau pun teknologi Wireless Local Area Network (WLAN) dan Wireless Fidelity (WiFi).

Bukan hanya komputer, notebook atau netbook saja yang dibundel dengan teknologi ini tetapi juga ponsel dan
smartphone, Internet Enabled Television (IETV), Blu-ray player, konsol game, sistem audio digital, eReader,
perangkat GPS, komputer tablet hingga kamera digital.

Firma riset Dell’Oro Group mengungkap, volume penjualan global alat-alat elektronik berkonektivitas WiFi
akan terus meningkat hingga lima tahun mendatang sehingga mencapai total 2,6 miliar unit pada 2014. Industri peralatan WLAN bahkan telah meraih rekor pendapatan global pada kuartal kedua (April-Juni) 2010,
dengan pertumbuhan 28% per tahun.

“Pendorong utama pertumbuhan ini adalah Small Office/Home Office (SOHO). Di sektor SOHO, volume penjualan
global router WLAN meningkat sekitar 15% pada 2010, dibandingkan pada 2009,” tutur Senior Analyst Wireless
LAN Research Dell’Oro Group, Loren Shalinsky.
Dell’Oro menjelaskan, pencapaian ini diraih karena adanya pemulihan kondisi perekonomian dunia. Dell’Oro
memprediksi, pendapatan global pasar peralatan jaringan WLAN akan sanggup menembus US$ 7 miliar pada 2014.

“Pasar peralatan jaringan WLAN global akan terus bertumbuh pesat karena konsumen semakin agresif membeli
alat-alat elektronik yang memerlukan akses jaringan nirkabel WiFi,” tandas Shalinsky.

Firma riset Strategy Analytics menambahkan, alat-alat elektronik berkonektivitas WiFi memang semakin
populer. “Meskipun kini ada teknologi 3G dan 4G, WiFi masih saja diminati seiring dengan adanya hotspot dan
jaringan rumahan,” ujar Director Connected Home Device Service Strategy Analytics, Peter King.

“Alhasil, volume penjualan global alat-alat elektronik berkonektivitas WiFi akan terus meningkat hingga
lima tahun mendatang dengan total 2,6 miliar unit pada 2014. “Pada 2014 pula, pasar global alat elektronik
berkonektivitas WiFi akan mampu menuai pendapatan lebih dari US$ 250 miliar,” tambahnya.

StrategyAnalytics menambahkan, konsumen semakin menuntut dukungan fitur jaringan, baik kabel atau pun
nirkabel, pada alat-alat elektronik non-komputer. Konsumen membutuhkan internet dimana saja, dan ini akan
memicu adopsi WiFi ke dalam perangkat-perangkat mobile internet.

Perangkat yang dilengkapi dengan WiFi saat ini masih didominasi oleh komputer dan konsol game.Dan segmen
ini akan terus meluas pada 2014 nanti. “Pasar didominasi oleh produk portable, namun TV dan pemutar Blu-ray
ber-WiFi akan semakin signifikan di rumah-rumah nantinya,” tandas King.

Kenyataan ini didukung oleh survei firma riset Allied Business Intelligence (ABI) Research yang
menyimpulkan bahwa konsumen pada saat ini sudah menganggap kuno sebuah sistem audio tidak dilengkapi fitur
jaringan.

“Alat-alat audio seperti CD player, amplifier, equalizer dan bahkan turntable akan menjadi benda antik jika
tidak dilengkapi teknologi jaringan kabel Ethernet, atau pun teknologi jaringan nirkabel WiFi,” ujar
Practice Director ABI Research, Jason Blackwell.

Mendukung pernyataan perusahaan-perusahaan riset tersebut, CEO Ericsson, Hans Vestberg mengatakan,
membanjirnya perangkat mobile di pasaran membuat pengguna internet di dunia, khususnya Asia Tenggara, mulai
bergeser dari Personal Computer (PC) desktop ke perangkat mobile.

Vestberg mengatakan, di tahun 2020 diperkirakan akan ada sekitar 50 miliar perangkat yang terkoneksi dengan
internet. “Nantinya di 2020, jumlah perangkat lebih banyak ketimbang manusia,” katanya.
Prediksi Vastberg tidak berlebihan mengingat pada saat ini saja, seperi dilansir melalui Cellular News (21/11), Regulator Telekomunikasi Brasil, melaporkan bahwa penetrasi ponsel di negara tersebut telah melampaui jumlah populasi penduduknya. Penetrasinya telah lebih dari 100 persen pada akhir Oktober lalu.

Bulan ini data pelanggan seluler di Brazil bahkan bertambah lagi menjadi tiga juta pelanggan baru dan menggenapkannya menjadi total 194,4 juta pelanggan. Padahal populasi di negara tersebut hanya sekitar 191,4 juta penduduk. Ini artinya sekitar 100 penduduk di Brasil memiliki kira-kira 100,44 sambungan telepon.

Vastberg menambahkan, perangkat yang terkoneksi tersebut sebagian besar terbagi menjadi dua bagian yakni consumer electronic dan intellegent transport, industri and society. “Harga mobile broadband juga akan semakin menurun,” tambahnya.

Salah satu contoh koneksi yang dipaparkan oleh Vestberg adalah aplikasi kesehatan yang kini bisa dijalankan
secara jarak jauh di ponsel. Selain kesehatan, jaringan telekomunikasi seluler juga memberikan pengaruh
yang besar dalam industri media.

HL3Pertumbuhan Perangkat Mobile
ABI Research menyebut sistem audio berteknologi jaringan sebagai Networked Audio Device (NAD). ABI Research
memperkirakan, pendapatan pasar global NAD akan mencapai lebih dari US$ 10 miliar pada 2015, alias bertumbuh rata-rata 32% per tahun mulai 2009 hingga 2015.

Diantara dua tipe utama NAD, yakni NAD yang mengandalkan teknologi jaringan kabel Ethernet dan NAD yang
mengandalkan teknologi jaringan nirkabel WiFi, ABI Research memprediksi produk yang diperkirakan bertumbuh
paling pesat hingga 2015 adalah NAD WiFi.

ABI Research juga memprediksi, pada 2015, trafik jaringan mobile dunia diperkirakan akan membengkak menjadi
20,4 miliar gigabyte. Perusahaan riset itu memperkirakan pada akhir tahun 2010 ini, para pengguna mobile akan menghasilkan lebih dari 3,7 miliar gigabyte untuk trafik suara dan data.

Di sisi lain, volume penjualan ponsel global pada 2010 akan mencapai 1,34 miliar unit, dan pasar ponsel global akan terus meningkat hingga 2015 dengan volume penjualan 1,7 miliar unit.

Jake Saunders, Vice President for Forecasting di ABI Research, melalui keterangan resminya (20/11)
mengatakan, “Pada tahun 2012 sekitar 2,6 miliar gigabyte untuk trafik jaringan mobile yang dihasilkan di wilayah Asia Pasifik akan melebihi gabungan total trafik jaringan mobile dari Eropa Timur, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika.”

Sementara perusahaan riset lain, Gartner, memperkirakan volume penjualan netbook global pada 2010 telah
meningkat 30 persen menjadi 41,8 juta unit, dari 32,1 juta unit pada 2009.
Data Gartner juga didukung oleh penelitian iSuppli bahwa pada 2009, penjualan produk global tersebut mencapai 22,2 juta unit dan pada 2010, angka itu akan melampaui 31 juta unit.

Adapun untuk pasar eReader, iSuppli meyakini penjualan eReader global akan terus meningkat, dengan pertumbuhan rata-rata 161 persen per tahun hingga 2012. Pada 2012, volume penjualan eReader global diperkirakan akan menembus 18,3 juta unit, dari sekitar 11 juta unit pada 2010.

Untuk pasar smartphone, firma riset International Data Corp (IDC) mengungkapkan, volume penjualan smartphone global pada 2010 bertumbuh sekitar 30 persen per tahun,” beber Senior Analyst Mobile Devices
Technology and Trends Research IDC, Ramon Llamas.

IDC menambahkan pula, volume penjualan smartphone global akan melampaui 390 juta unit pada 2013, alias bertumbuh rata-rata 20,9 persen per tahun mulai 2009 hingga 2013.
Sedangkan untuk pasar tablet, firma riset Canalys memperkirakan, volume penjualan global tablet akan mencapai 12,5 juta unit pada 2010 ini. Canalys meyakini angka itu akan terus membengkak menjadi 66 juta
unit pada 2014.

sumber : http://www.biskom.web.id/2010/12/27/2011-mobile-internet-dominasi-pasar.bwi

Telematika Pada Jaringan Komputer

Ragam Bentuk Telematika
Ragam bentuk yang akan disajikan merupakan aplikasi yang sudah berkembang diberbagai
sektor, maka tidak menutup kemungkinan terjadi tumpang tindih. Semua kegiatan dengan istilah
work and play dapat menggunakan telematika sebagai penunjang kinerja usaha semua usaha
dalam semua sektor, sosial, ekonomi dan budaya. Bentuk-bentuk tersebut adalah.
1. E-goverment
E-goverment dihadirkan dengan maksud untuk administrasi pemerintahan secara
elektronik. Di Indonesia ini, sudah ada suatu badan yang mengurusi tentang telematika, yaitu
Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). TKTI mempunyai tugas mengkoordinasikan
perencanaan dan mempelopori program aksi dan inisiatif untuk menigkatkan perkembangan
dan pendayagunaan teknologi telematika di Indonesia, serta memfasilitasi dan memantau
pelaksanaannya.
Tim tersebut memiliki beberapa terget. Salah satu targetnya adalah pelaksanaan
pemerintahan online atau e-goverment dalam bentuk situs/web internet. Dengan e-goverment,
pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui sarana internet yang tujuannya adalah
memberi pelayanan kepada publik secara transparan sekaligus lebih mudah, dan dapat diakses
(dibaca) oleh komputer dari mana saja.
E-goverment juga dimaksudkan untuk peningkatan interaksi, tidak hanya antara
pemerintah dan masyarakat, tetapi juga antar sesama unsur pemerintah dalam lingkup
nasional, bahkan internasional. Pemerintahan tingkat provinsi sampai kabupaten kota, telah
memiliki situs online. Contohnya adalah DPR, DKI Jakarta, dan Sudin Jaksel. Isi informasi
dalam e-goverment, antara lain adalah profil wilayah atau instansi, data statistik, surat
keputusan, dan bentuk interaktif lainnya.
2. E-commerce
Prinsip e-commerce tetap pada transaksi jual beli. Semua proses transaksi perdagangan
dilakukan secara elektronik. Mulai dari memasang iklan pada berbagai situs atau web,
membuat pesanan atau kontrak, mentransfer uang, mengirim dokumen, samapi membuat
claim.
Luasnya wilayah e-commerce ini, bahkan dapat meliputi perdagangan internasional,
menyangkut regulasi, pengiriman perangkat lunak (soft ware), erbankan, perpajakan, dan
banyak lagi. E- commerce juga memiliki istilah lain, yakni e-bussines. Contoh dalam kawasan
ini adalah toko online, baik itu toko buku, pabrik, kantor, dan bank (e-banking). Untuk yang
disebut terakhir, sudah banyak bank yang melakukan transaksi melalui mobile phone, ATM
(Automatic Teller Machine - Anjungan Tunai Mandiri), bahkan membeli pulsa.
3. E-learning
Globalisasi telah menghasilkan pergeseran dalam dunia pendidikan, dari pendidikan tatap
muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Di Indonesia sudah
berkembang pendidikan terbuka dengan modus belajar jarah jauh (distance lesrning) dengan
media internet berbasis web atau situs.
Kenyataan tersebut dapat dimungkinkan dengan adanya teknologi telematika, yang dapat
menghubungkan guru dengan muridnya, dan mahasiswa dengan dosennya. Melihat hasil
perolehan belajar berupa nilai secara online, mengecek jadwal kuliah, dan mengirim naskah
tugas, dapat dilakukan.
Peranan web kampus atau sekolagh termasuk cukup sentral dalam kegiatan pembelajaran
ini. Selain itu, web bernuansa pendidikan non-institusi, perpustakaan online, dan interaksi
dalam group, juga sangatlah mendukung. Selain murid atau mahasiswa, portal e-learning
dapat diakses oleh siapapun yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis usia, maupun
pengalaman pendidikan sebelumnya.

sumber : http://www.fitrieamelia.com/admin/upload/Sejarah%20Perkembangan%20Teknologi%20Telematika.pdf